KARENA MENCINTAI PUN BUTUH ILMU
(menyelami perbedaan cara berfikir laki-laki dan perempuan)
Memasuki dunia pernikahan berarti membuka pengalaman menyingkap
misteri peradaban baru. Penyatuan dua individu dengan karakter dan
kebudayaan yang berbeda adalah sebuah pekerjaan penting. Ada banyak
kejutan tentang suasana jiwa, perasaan, logika, perubahan alamiah baik
fisik maupun psikologis. Nah saatnya untuk saling mengenal. Dalam proses
pengenalan tidak jarang terjadi konflik antara suami istri. Cerita
berikut adalah salah satu contohnya.
Rika dan Andi adalah pasangan muda. terpaksa terpisah karena Andi
harus ke Menado untuk urusan bisnis, sedangkan Rika tidak bisa ikut
suaminya karena masih harus menyelesaikan dua semester lagi kuliahnya di
salah satu universitas di kotanya. Bagi sepasang suami istri seperti
mereka, perpisahan adalah perjalanan panjang dan melelahkan. Cukuplah
tiga bulan merasai rindu memuncak hingga keubun-ubun. Sampai akhirnya
Andi mendapat cuti dan bisa pulang menemui istirnya.
Kabar bahagia itu sontak membuat Rika menjadi berbunga-bunga.
Berbagai hal dipersiapkan untuk menyambut kepulangan suaminya, termasuk
melakukan perawatan diri. Seharian Rika menghabiskan waktu di salon
langganannya. Segala jenis perawatan dari rambut hingga kuku kaki
dijalaninya. Tak lupa juga Rika membeli gaun baru. Ia sangat menyadari
bahwa berdandan untuk suami adalah keharusan. Bahkan dalam Islam, itu
adalah ibadah. Sebuah janji pertemuan perdana pasca perpisahan panjang
pun dirancang matang-matang. Sebuah makan malam romantis di café terpung
di pinggir pantai.
Tibalah waktu yang dinanti-nanti. Mereka bertemu dan saling melepas
rindu. Dengan hidangan menggoda selera serta suasana yang mendukung,
mereka mulai membuka percakapan.
“Kamu kok kurus sekali sayang? Kamu diet ya?” Tanya Andi pada Rika.
“Ia sayang, kurasa dulu aku terlalu gendut. Makanya aku diet” jawab
Rika. Andi mengangguk, “Ooo, kamu potong rambut ya? Potong rambut
dimana?”. “Bisalah sayang, di Salon langganan, bagus gak?” Tanya Rika
penasaran. Singkat Andi menjawab, “Bagus”. Rika pun tersenyum kecut.
“Oh iya sayang, ole-olenya mana? Ada kan?”. Rika mulai mencari-cari,
bersiap mendapat kejutan manis. Andi membuka tas ranselnya dan
mengeluarkan sebuah kotak, “Nih, ada ikan fufu dan manisan pala, makanan
khas Menado. Kamu coba deh.. ini rekan kerja yang kasi waktu ngantar
aku ke bandara.” Lagi-lagi Rika tersenyum kecut, “Makasih sayang, tapi..
kamu gak beli sesuatu untuk aku?” tanyanya lagi. Andi menjawab dengan
wajah memerah “Aduuh, maaf ya sayang, aku gak tau mau beli apa buat
kamu. Aku gak tau kamu sukanya apa.” “eh, tapi kamu senang kan kita
berkumpul lagi?” mencoba menghibur. “iya lah, aku senang” jawab Rika
dengan pelan.
Andi melanjutkan pembicaraan, “sayang kamu cerita dong, apa aja yang terjadi selama aku pergi?”
“Banyak,….” Rika mulai bercerita panjang lebar hal-hal yang terjadi
selama Andi pergi dan semua unek-uneknya. Andi mendengarkan, sesekali
bergumam “hmmm,..” sesekali mengangguk, sedang matanya memandang ke arah
laut. Kemudian Rika berhenti berbicara dan bertanya,”Kamu dengar aku
kan?” Andi lalu melihat wajah Rika, “Iya sayang, aku dengar kok,
lanjutkan aja ceritanya.” Rika protes, “Tapi kamu tidak melihatku”. Andi
tersenyum kemudian menatap Rika, “Aku dengar kok sayang, tadi sampai
dimana?”.
Wajah Rika kemudian berubah padam, “Sudah, lebih baik aku pulang
saja. Pertemuan kita sama sekali tidak menyenangkan.” Kata Rika dengan
suara bergetar. Ia lalu berdiri mengambil tas dan berjalan meninggalkan
Andi. Andi mengejar dan menarik tangan Rika,” Sayang, apa yang terjadi?
Aku dengar kamu bicara kok, percaya lah?”. Rika diam saja, mencoba
melepas tangannya dari genggapaman Andi. wajahnya cemberut. Matanya
mulai berkaca-kaca. Andi menggenggam lebih kencang, “Sayang, duduk dulu.
Kita bicarakan, okey?.. aku sangat merindukanmu” akhirnya Rika pun
duduk kembali.
Andi bertanya dengan perasaan bingung, “Aku tidak mengerti apa yang
terjadi. Tadi kita ngobrol baik-baik saja, tiba-tiba kamu marah tanpa
sebab.” Rika cuma diam dan menunduk. Air matanya mengalir semakin deras.
Andi berbicara lagi, “sayang, aku sedih kalo kamu begitu.. bicaralah
sayang, ada apa?”.
Rika kemudian berbicara terbata-bata, “Aku mau pulang.” Sejenak
terdiam, “Baik sayang kita pulang.” “Nggak, aku pulang sendiri. Kamu di
sini saja dulu, tolong pikirkan apa yang terjadi. Kalau kamu sudah
ngerti, baru boleh pulang. Aku tunggu di rumah saja. Moga pertemuan
berikutnya lebih menyenangkan. Sampai jumpa nanti” Rika kemudian berdiri
dan berbalik pergi dengan langkah cepat meninggalkan Andi.
Andi bingung apa yang terjadi. Dia sama sekali tidak mengerti apa
yang membuat Rika begitu marah dan sedih. Berkali-kali ia mengulang
mengingat kejadian-kejadian maupun perkataan-perkataan yang ia
keluarkan tadi, tapi rasa-rasanya tidak ada yang salah, semuanya
baik-baik saja. Lama Andi termenung memikirkannya. Ia tidak mengerti
mengapa wanita bisa sangat ceria awalnya kemudian berubah sangat sedih
dalam hitungan menit. Apa yang ada difikiran Rika???
Di rumah, Rika menangis tersedu-sedu. Matanya berngkak. Dia tidak
menyangka makan malam romantisnya sama sekali tidak romantis. Ia
mengganti gaunnya dengan daster lusuh. Menghapus mike up yang menghias
di wajahnya sambil mengomel, “Percuma aku dandan, Andi juga tidak
melihatku. Dia tidak bilang aku cantik, malah mengomentari badanku yang
kurus. Ahh.. mungkin aku ini memang jelek di matanya” Rika terus menatap
wajahnya dicermin sambil mengomel. Dia mungkin lupa niat awalnya bahwa
dandan untuk suami adalah ibadah. Bukan itu lagi yang difikirnya.
Melainkan, “Mengapa aku selalu gagal menarik perhatian suami dengan
dandananku.” Mengapa Andi sulit sekali memahami perasaan istrinya,
memberi hadiah kecil pun tidak. “Ahh.. mungkin aku memang tidak pantas
untuk mendapatkannya…” gumam Rika.
Pria dan wanita adalah dua makhluk yang berbeda. Yang kemudian
disatukan Allah dalam sebuah pernikahan “Supaya kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya,…”(QS. Ar Ruum:21)
Perbedaan dua makhluk ini bukannya tidak bisa disatukan. Justru
perbedaan itu menjadi ritme yang menciptakan musikalisasi yang indah.
Tugas kita memahami perbedaan itu kemudian memadukannya menjadi dua sisi
yang beriringan dan saling melengkapi.
Mengapa wanita sangat mudah jatuh cinta pada pria yang ia kenal lewat
jejaring social FB atau pun twiter padahal ia belum pernah melihat
rupanya. Hanya dengan membaca tulisan-tulisannya mereka bisa sangat
tersanjung. wanita bisa jatuh cinta hanya dengan menutup kedua matanya.
Mengapa pria tidak akan mungkin mau menerima kucing dalam karung. Hal yang mungkin saja bisa diterima oleh sebagian wanita.
Jawabannya adalah, karena pria jatuh cinta dengan matanya sedangkan wanita jatuh cinta dengan telinganya.
Hal itu sangat disadari oleh Rika. Itulah sebabnya, ia mengkhususkan
diri berhias untuk suaminya. Akan tetapi apa yang diharapkan Rika dari
suaminya berupa pujian dan rayuan tidak ia dapatkan. Kejadian itu
membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Ia menyangka suaminya akan
memberikan kejutan manis. Sayangnya, pria termasuk Andi bukanlah pesulap
yang mampu membaca pikiran wanita. Segala keinginan wanita yang tidak
terbahasakan tidak mungkin akan diketahui oleh pria.
Berbeda dengan pria, wanita memiliki kepekaan yang lebih tinggi.
Mereka mampu membaca sinyal bahasa tubuh, vocal maupun verbal orang
lain. Sehingga mereka sangat mudah memahami apa yang dirasakan dan
diinginkan orang lain. Wanita menganggap pria juga memiliki kemampuan
itu. Menganggap pria bisa memahami apa yang dirasakan, dibutuhkan dan
diinginkan oleh wanita. Maka, apabila yang terjadi tidaklah demikian,
maka mereka akan menganggap pria itu tidak peka. Padahal, pria bukanlah
pembaca pikiran.
Wanita tidak mampu berbicara secara to the point. Mereka berbicara
dengan menggunakan bahasa isyarat atau kalimat-kalimat tidak langsung,
alias muter-muter. Sedangkan pria berbicara dengan to the point, secara
langsung dengan kalimat yang pendek-pendek.
Mengolah kosakata dengan benar bukanlah keahlian dasar wanita.
Sehingga ketepatan arti menjadi tidak relevan bagi mereka. Sering sekali
mereka mengatakan sesuatu tapi tidak sesuai dengan maksud mereka.
Sedangkan pria sangatlah peka terhadap perkataan. Dia menanggapinya
secara harafiah dan literal, apa adanya, kata per kata sesuai dengan
arti dasarnya. Maka tidak jarang antara suami dan istri terjadi
kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Sang istri mengatakan, “Kamu memang
gak pernah mau membantuku mengerjakan pekerjaan rumah.” Sang suami
menjawab, “Kenapa kamu bilang gak pernah, kemarin kan aku yang membuang
sampah.” Sebenarnya maksud sang istri, bukan tidak pernah, tapi jarang.
Hanya saja yang keluar dimulutnya adalah kalimat “gak pernah”. Kalimat
itu diartikan oleh suami bahwa sang istri tidak menghargai suaminya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar